Rowobranten - Dari Uang Jajan hingga Botol Bekas, Anak-anak Rowobranten Belajar Menabung dan Peduli Lingkungan

Dari Uang Jajan hingga Botol Bekas, Anak-anak Rowobranten Belajar Menabung dan Peduli Lingkungan

Dari Uang Jajan hingga Botol Bekas, Anak-anak Rowobranten Belajar Menabung dan Peduli Lingkungan

Rowobranten (6/8) – Kebiasaan menabung ternyata dapat dikenalkan melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan anak. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan Multidisiplin 2 KKN Tim II Universitas Diponegoro di MI NU 34 Rowobranten, Ringinarum, Kendal, pada Kamis (6/8). Siswa kelas 4 diajak mengenal pentingnya menabung sekaligus memanfaatkan botol plastik bekas menjadi celengan.

Kegiatan serupa kemudian dilaksanakan kembali di SDN Rowobranten pada Sabtu (8/8) dengan sasaran siswa kelas 4. Edukasi tersebut menjadi bagian dari program Multidisiplin 2 dengan tema “Pengelolaan Sampah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Desa Rowobranten”.

Program ini dirancang untuk mengenalkan pengelolaan sampah kepada anak-anak melalui kegiatan yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga melibatkan mereka secara langsung. Dalam rancangan program MD 2, anak-anak SD/MI di Desa Rowobranten memang menjadi salah satu kelompok sasaran kegiatan edukasi mengenai pemanfaatan sampah plastik.

Menabung Dimulai dari Uang Jajan

Pada sesi materi budaya menabung, Abid selaku pembawa materi mengajak siswa berbicara mengenai kebiasaan mereka menggunakan uang jajan. Pertanyaan-pertanyaan sederhana diberikan untuk mengetahui apa yang biasanya dilakukan anak ketika mendapatkan uang dan apakah mereka pernah menyisihkan sebagian uang tersebut.

Pembahasan kemudian diarahkan pada perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Anak-anak diajak memahami bahwa tidak semua hal yang ingin dibeli harus langsung dibeli. Sebagian uang yang dimiliki dapat disisihkan terlebih dahulu untuk ditabung.

Cara tersebut diperkenalkan sebagai langkah sederhana untuk membangun kebiasaan menabung sejak dini. Anak-anak tidak diarahkan untuk menabung dalam jumlah besar, melainkan belajar membangun kebiasaan menyisihkan uang secara rutin.

Melalui pendekatan tersebut, menabung diperkenalkan bukan sebagai sesuatu yang sulit atau hanya dilakukan oleh orang dewasa. Menabung dapat dimulai dari uang jajan yang mereka terima sehari-hari.

Botol Plastik Bekas Berubah Menjadi Celengan

Setelah mendapatkan materi mengenai menabung, siswa diajak masuk ke kegiatan praktik. Botol plastik bekas yang sudah tidak digunakan dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat celengan.

Botol yang sebelumnya dapat berakhir sebagai sampah kemudian diberi fungsi baru. Anak-anak menghias dan membuat celengan mereka sendiri dengan kreativitas masing-masing.

 

Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan konsep bahwa sampah tidak selalu harus langsung dibuang. Beberapa barang yang sudah tidak digunakan masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi benda yang memiliki fungsi.

Pemanfaatan botol plastik tersebut sejalan dengan rancangan MD 2 yang mendorong pengolahan sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna melalui prinsip waste-to-value. Salah satu bentuk yang dirancang dalam program adalah pemanfaatan botol plastik menjadi celengan sebagai media edukasi bagi anak-anak.

Belajar Menabung Sambil Belajar Memanfaatkan Sampah

Kegiatan membuat celengan menjadi bagian penting karena materi mengenai menabung tidak berhenti pada penyampaian teori. Anak-anak langsung mendapatkan benda yang dapat mereka gunakan untuk mempraktikkan kebiasaan tersebut di rumah.

Celengan dari botol plastik juga memberikan makna lain. Anak-anak dapat melihat secara langsung bahwa benda yang sebelumnya dianggap sebagai sampah ternyata masih dapat digunakan kembali.

Dengan demikian, satu kegiatan membawa dua pembelajaran sekaligus. Anak-anak belajar menyisihkan uang untuk ditabung, sekaligus belajar mengurangi dan memanfaatkan kembali sampah plastik.

Pendekatan edukasi melalui kegiatan yang melibatkan anak secara langsung juga sesuai dengan rancangan MD 2 yang menggunakan metode sosialisasi dan praktik kreatif dengan sasaran SD/MI di Desa Rowobranten.

Dua Sekolah, Satu Pesan

Pelaksanaan kegiatan di MI NU 34 Rowobranten pada 6 Agustus dan SDN Rowobranten pada 8 Agustus menjadi ruang bagi mahasiswa KKN untuk menyampaikan pesan yang sama dengan cara yang dekat dengan keseharian anak.

Bagi siswa, menabung dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: menyisihkan sebagian uang jajan. Sementara itu, kepedulian terhadap lingkungan juga dapat dimulai dari tindakan sederhana, salah satunya dengan menggunakan kembali barang yang masih memiliki manfaat.

Keduanya kemudian dipertemukan melalui sebuah celengan yang dibuat dari botol plastik bekas. Celengan tersebut bukan hanya hasil karya dari kegiatan, tetapi juga dapat menjadi pengingat bagi anak-anak untuk mulai membangun kebiasaan menabung.

Membangun Kebiasaan Sejak Dini

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap edukasi yang diberikan tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Celengan yang dibawa pulang oleh siswa diharapkan dapat terus digunakan untuk menyimpan sebagian uang mereka.

Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yaitu belajar mengatur uang sekaligus lebih peduli terhadap barang-barang yang ada di sekitar mereka.

Program pemanfaatan sampah plastik ini juga mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, terutama melalui upaya penggunaan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan dan pengurangan sampah plastik. Dalam rancangan KKN, pengelolaan sampah plastik menjadi produk bernilai guna merupakan salah satu bentuk kontribusi program terhadap SDGs.

Penulis: Abid Pandya Saputra_13040223120022_Antropologi Sosial

Editor: Hendrik AS


Dipost : 14 Agustus 2026 | Dilihat : 2

Share :